Minggu, 29 April 2012

Mengejar Sakura


11 April 2012

Ini adalah kali ketiga aku kembali ke negeri indah ini. Sakura pertama kutemui saat berada dalam kereta ekspress Haruka yang membawaku dari Kansai Airport menuju Kyoto. Tampak beberapa spot sakura menyempul di antara bangunan dan persawahan yang rapih. subhanallah....ciptaan yang benar-benar sempurna...

Tiba-tiba aku berfikir seandainya sakura tumbuh di seluruh penjuru Jakarta, mungkin tak akan seindah ini kelihatannya. Membayangkan sakura tumbuh di pinggir sungai kelapa gading yang berwarna hitam keruh itu....sungguh tak serasi.... Sakura di antara cerobong hitam pabrik-pabrik....akan tampak menyedihkan.....

Udara masih dingin di sini, tapi tak sedingin Januari lalu. Sakura kembali terlihat di sepanjang pinggiran sungai....sepanjang jalan yang dilewati keretaku. Saat menonton Doraemon dan membaca komik Detektif Conan aku selalu berandai-andai suatu ketika aku bisa memetik sakura. Dan mimpiku akan terwujud sebentar lagi.... Biwako Canal Museum, Osaka Castle, dan Suzuka Sirkuit menjadi target utama perjalananku di musim semi ini.

Aku sekarang sudah lumayan jago di negara ini, saat tiba di bandara tak perlu tanya-tanya saat mau membeli tiket kereta. Tak perlu clingak-clinguk lagi sampai ditanya polisi bandara dikira orang hilang seperti kejadian Januari lalu. Sudah bisa sedikit membaca huruf-huruf Hiragana yang tertulis di papan sepanjang jalan. Dan....sebentar lagi aku akan sampai Kyoto Eki, memulai petualangan musim semi pertamaku :-)

16 April 2012

Hari berlalu begitu cepat di sini. Bangun tidur membuka jendela ada bunga sakura menyapa. Keluar kamar, di depan apato di Uji-shi tumbuh sakura yang cukup tinggi, bunga-bunganya menjulur ke teras lantai 4 apato yang kutinggali. Energi yang begitu positif untuk memulai sebuah hari. Dan sakura pula yang mengantarku kembali menuju Kansai Airport siang ini.

Berburu sakura di negara ini tak ada habisnya. Nikon D3000-ku menjadi teman setia yang mengabadikan setiap momen dengan indahnya. Musim semi di Kyoto-Osaka terekam baik dalam setiap jepretannya.

Namun, sekali lagi bahasa menjadi kendala. Kejadian konyol kembali terulang karena keterbahasan bahasa. "SUMIMASEN" kembali menjadi andalanku. Siang itu di toilet sebuah stasiun menuju ke Osaka. Kucari tombol FLUSH, dan kulihat tombol hijau di dinding, kupencet, tak lama setelah itu terdengar suara orang berlari menuju toilet ini, pintu toiletku diketuk laki-laki yang tampaknya seorang penjaga keamanan. Hmmmmm.....tampaknya aku salah menekan tombol HELP. Dengan keras kuteriakkan "SUMIMASEN....." dan.... setelah berkata-kata yang aku tak tahu artinya pak penjaga itupun pergi.... Aku hanya berdoa semoga pak penjaga itu tak mengenaliku saat aku keluar toilet nanti.

Kali ini aku juga mengikuti sebuah tradisi yang bernama Mochi-suki. Dulu sering liat di acara TV champion, sekarang akhirnya aku ikut "nguleni" adonan mochi yang dipukul-pukul di lumpang. 10 kg tepung beras diolah kali ini, dan itu jadi mochi yang mungkin tidak akan habis seminggu ke depan. Rasanya enak, ada yang berisi beras merah, kacang, kedelai, dan juga ada yang berasa asin dan gurih.

Tapi, yang paling keren adalah saat aku menonton Formula Nippon di Suzuka International Circuit. Pertama kali nonton balapan dari dekat, mulai dari pembukaan, memutari separuh lebih arena sirkuit untuk mendapatkan tempat terbaik mengamati manuver-manuver para pembalap, hingga pemberian trophy pada juaranya. How amazing time. Sempat memperoleh beberapa moment tapi masih kurang maksimal. Harus belajar mengeksplore D3000 ku lagi.....


Kamis, 09 Februari 2012

Jero Wacik: Kartini Tak Sekedar Pahlawan Emansipasi

Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam (Kartini-Habis Gelap Terbitlah Terang)


Pagi itu, Senin, 6 Februari 2012, gendhing Prau Layar yang dilantunkan siswa-siswi Sekolah Dasar menyambut kedatangan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik dan rombongan di pendopo Kota Ukir, Jepara, Jawa Tengah. Sebelum meresmikan beroperasinya Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tanjung Jati B yang berlokasi di Desa Tubanan, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara, Jero Wacik berkesempatan singgah di pendopo yang pernah menemani masa kecil pahlawan emansipasi wanita, Raden Adjeng (RA) Kartini.


Setelah berbincang dan memberikan motivasi untuk terus melestarikan budaya bangsa kepada para siswa yang fasih melantunkan beberapa tembang Jawa itu, Jero Wacik memasuki pendopo penuh ukiran kayu jati yang dibangun tahun 1750, yaitu pada era pemerintahan Adipati Citro Sumo III, pimpinan pemerintahan yang ke 23 selama kurun waktu 22 tahun (1730-1760).


Melintasi Ruang Peringgitan yang digunakan untuk menjamu tamu terbatas, didampingi Gubernur Jateng Bibit Waluyo dan Bupati Jepara Hendro Martojo, Jero Wacik menuju ke ruangan tidur Kartini kecil yang lahir pada 21 April 1879. Tak lama di sana, Jero Wacik memasuki Ruang Pingitan yang berukuran 3 x 4 meter. Di ruangan inilah dulu saat berusia 12 tahun Kartini dipingit menunggu lamaran dari pria yang tidak dikenal sebelumnya. Di ruangan ini pula Kartini menulis surat kepada teman-teman korespondensinya yang berasal dari Belanda, salah satunya adalah Rosa Abendanon yang memberikan banyak dukungan pada Kartini.


Sejenak Jero Wacik tertegun di Ruang Pingitan. "Disinilah perjuangan wanita Indonesia dimulai. Kartini bukan hanya pejuang emansipasi wanita, namun beliau adalah pahlawan bangsa yang harus kita teruskan perjuangannya," kata Jero Wacik sambil mengamati bingkai foto Kartini dan saudara-saudaranya yang pernah dipingit di ruangan itu. Kepada Bupati Jepara yang turut mendampinginya, Jero Wacik berpesan agar tempat ini selalu dijaga kelestariannya, sehingga masyarakat yang berkunjung, khususnya para pelajar putri memahami dan mampu meneladani pemikiran Kartini.


Ruangan selanjutnya yang dituju Jero Wacik adalah serambi belakang pendopo. Ruangan ini pintu dan jendelanya masih asli peninggalan zaman dahulu. Tampak puluhan kursi berjajar, menyimpan kenangan para wanita pribumi yang semangat menuntut berbagai ilmu di tempat ini. Di ruangan ini, dulu Kartini bisa mewujudkan salah satu mimpinya, mendirikan sekolah wanita. Walaupun Kartini tidak berkesempatan melanjutkan sekolahnya karena tradisi pingitan, namun himpunan murid-murid pertama Kartini, yaitu sekolah pertama gadis-gadis priyayi Bumi Putera telah dibina di serambi pendopo belakang kabupaten.


Sambil duduk di kursi tempat Kartini belajar, Jero Wacik memandang bangunan memanjang yang pada masa Kartini dipergunakan untuk memberi pelajaran memasak. Di depan dapur umum tersebut terdapat 2 pohon bunga kantil kegemaran Kartini. "Para pelajar putri harus diajak kemari, duduk disini, sejenak kembali ke masa lalu untuk meneladani semangat dan pemikiran Kartini," ujar Jero Wacik.


Hari itu, Kartini sedang menyelesaikan lukisan dengan cat minyak. Murid-murid sekolahnya mengerjakan pekerjaan tangan masing-masing, ada yang menjahit dan ada yang membuat pola pakaian. Di Ruang Peringgitan, ayah Kartini, Adipati RMAA Sosroningrat menerima kedatangan tamu utusan yang membawa surat lamaran untuk Kartini dari Bupati Rembang, Adipati Djojoadiningrat, seorang Bupati yang berpandangan maju yang mendukung cita-cita Kartini untuk memajukan kaum wanita pribumi.


Kartini pergi di usianya ke-25, namun yang diberikannya untuk bangsa ini akan bertahan sepanjang masa. 13 September 1904 RA Kartini melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Singgih/RM. Soesalit. Tetapi keadaan Kartini semakin memburuk dan akhirnya pada tanggal 17 September 1904 RA Kartini menghembuskan nafasnya yang terakhir pada usia 25 tahun. (KO)


Jakarta, 9 Februari 2012.
Tulisan ini saya buat dalam tugas meliput kunjungan Menteri ESDM Jero Wacik ke Jepara dan membaca kembali "Habis Gelap Terbitlah Terang" melalui e-book, dipublikasikan di http://esdm.go.id/berita/humaniora/38-humaniora/5461-jero-wacik-kartini-tak-sekedar-pahlawan-emansipasi.html, Jumat, 10 Februari 2012