Ini adalah kali ketiga aku kembali ke negeri indah ini. Sakura pertama kutemui saat berada dalam kereta ekspress Haruka yang membawaku dari Kansai Airport menuju Kyoto. Tampak beberapa spot sakura menyempul di antara bangunan dan persawahan yang rapih. subhanallah....ciptaan yang benar-benar sempurna...
Tiba-tiba aku berfikir seandainya sakura tumbuh di seluruh penjuru Jakarta, mungkin tak akan seindah ini kelihatannya. Membayangkan sakura tumbuh di pinggir sungai kelapa gading yang berwarna hitam keruh itu....sungguh tak serasi.... Sakura di antara cerobong hitam pabrik-pabrik....akan tampak menyedihkan.....
Udara masih dingin di sini, tapi tak sedingin Januari lalu. Sakura kembali terlihat di sepanjang pinggiran sungai....sepanjang jalan yang dilewati keretaku. Saat menonton Doraemon dan membaca komik Detektif Conan aku selalu berandai-andai suatu ketika aku bisa memetik sakura. Dan mimpiku akan terwujud sebentar lagi.... Biwako Canal Museum, Osaka Castle, dan Suzuka Sirkuit menjadi target utama perjalananku di musim semi ini.
Aku sekarang sudah lumayan jago di negara ini, saat tiba di bandara tak perlu tanya-tanya saat mau membeli tiket kereta. Tak perlu clingak-clinguk lagi sampai ditanya polisi bandara dikira orang hilang seperti kejadian Januari lalu. Sudah bisa sedikit membaca huruf-huruf Hiragana yang tertulis di papan sepanjang jalan. Dan....sebentar lagi aku akan sampai Kyoto Eki, memulai petualangan musim semi pertamaku :-)
Hari berlalu begitu cepat di sini. Bangun tidur membuka jendela ada bunga sakura menyapa. Keluar kamar, di depan apato di Uji-shi tumbuh sakura yang cukup tinggi, bunga-bunganya menjulur ke teras lantai 4 apato yang kutinggali. Energi yang begitu positif untuk memulai sebuah hari. Dan sakura pula yang mengantarku kembali menuju Kansai Airport siang ini.
Berburu sakura di negara ini tak ada habisnya. Nikon D3000-ku menjadi teman setia yang mengabadikan setiap momen dengan indahnya. Musim semi di Kyoto-Osaka terekam baik dalam setiap jepretannya.

Namun, sekali lagi bahasa menjadi kendala. Kejadian konyol kembali terulang karena keterbahasan bahasa. "SUMIMASEN" kembali menjadi andalanku. Siang itu di toilet sebuah stasiun menuju ke Osaka. Kucari tombol FLUSH, dan kulihat tombol hijau di dinding, kupencet, tak lama setelah itu terdengar suara orang berlari menuju toilet ini, pintu toiletku diketuk laki-laki yang tampaknya seorang penjaga keamanan. Hmmmmm.....tampaknya aku salah menekan tombol HELP. Dengan keras kuteriakkan "SUMIMASEN....." dan.... setelah berkata-kata yang aku tak tahu artinya pak penjaga itupun pergi.... Aku hanya berdoa semoga pak penjaga itu tak mengenaliku saat aku keluar toilet nanti.
Kali ini aku juga mengikuti sebuah tradisi yang bernama Mochi-suki. Dulu sering liat di acara TV champion, sekarang akhirnya aku ikut "nguleni" adonan mochi yang dipukul-pukul di lumpang. 10 kg tepung beras diolah kali ini, dan itu jadi mochi yang mungkin tidak akan habis seminggu ke depan. Rasanya enak, ada yang berisi beras merah, kacang, kedelai, dan juga ada yang berasa asin dan gurih.
Tapi, yang paling keren adalah saat aku menonton Formula Nippon di Suzuka International Circuit. Pertama kali nonton balapan dari dekat, mulai dari pembukaan, memutari separuh lebih arena sirkuit untuk mendapatkan tempat terbaik mengamati manuver-manuver para pembalap, hingga pemberian trophy pada juaranya. How amazing time. Sempat memperoleh beberapa moment tapi masih kurang maksimal. Harus belajar mengeksplore D3000 ku lagi.....





